Tuntutan seorang guru bukan hanya menjadi tenaga didik tapi juga harus menjadi orang tua bagi putra dan putrinya di sekolah. Mungkin tidak semua menerapkan konsep seperti ini, tapi jika anda bekerja di lembaga pendidikan yang mengedepankan pendidikan dan kekeluargaan konsep guru sebagai orang tua ini harus dilaksanakan. Lantas bagaimana caranya bisa menjadi orang tua bagi mereka yang bukan anak kandung sendiri?
Dari pengalaman kami dalam mendidik para peserta didik dan dalam memberikan pelayanan kepada orang tua dan para peserta didik, kami menuntut keras para guru dan wali santri di pondok pesantren untuk bisa memberikan 100% dirinya untuk pekerjaannya. Seperti wawancara kami kepada ibu Ima Sri Mulyani S Pd I. salah satu wali santri Al Masoem yang sudah lama menjadi wali santri dan bahkan pernah mendapatkan apresiasi sebagai wali santri terbaik di Yayasan Al Masoem Bandung.
Dalam wawancara eksklusif beliau menyampaikan bahwa untuk seorang guru mencintai peserta didiknya, terdapat beberapa langkah dan prinsip yang dapat diterapkan diantaranya seperti :
1. Kenali Setiap Individu:
Penting bagi seorang guru untuk mengenal setiap peserta didiknya secara personal. Mengetahui minat, bakat, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi oleh setiap siswa dapat membantu guru untuk memahami mereka dengan lebih baik. Begitu juga ustadz atau wali santri yang memiliki tanggung jawab 24 jam bersama dengan putra dan putri didiknya, harus bisa mengenali setiap karakter siswa karena percaya atau tidak, setiap anak memiliki karakternya masing masing, dengan budaya yang berbeda dan kadang juga aksen yang berbeda.
2. Jalin Hubungan yang Positif:
Bina hubungan yang positif dan saling menghormati antara guru dan peserta didik. Komunikasi yang terbuka, penerimaan, dan sikap empati akan membantu membangun ikatan yang kuat antara guru dan siswa. Dengan mengutamakan komunikasi terbuka, penerimaan, sikap empati, keterlibatan aktif, model perilaku positif, dan umpan balik yang konstruktif, seorang guru dapat membangun hubungan yang positif dan saling menguntungkan dengan peserta didiknya. Hal ini akan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, memotivasi, dan memungkinkan setiap siswa untuk berkembang secara optimal.
3. Berikan Dukungan:
Seorang guru dapat mencintai peserta didiknya dengan memberikan dukungan yang tulus. Hal ini bisa berupa dukungan dalam hal akademik, emosional, atau bahkan sosial. Mendorong dan menginspirasi siswa untuk mencapai potensi terbaik mereka adalah tindakan yang sangat dihargai.
Dukungan dan dorongan bukan hanya tentang memberikan semangat dan motivasi tapi juga tentang bagaimana cara anda memberikan dukungan dan apresiasi kepada setiap yang mereka dapatkan meskipun itu hanya pencapaian kecil. Tapi sesuatu yang kecil itu bisa menjadi besar ketika seorang guru atau orang tua kedua mampu memposisikan dan memberikannya di waktu yang tepat.
4. Terlibat dalam Proses Pembelajaran:
Terlibat aktif dalam proses pembelajaran peserta didik. Berikan penghargaan pada prestasi mereka, sekecil apapun itu, dan bantu mereka mengatasi kesulitan atau hambatan yang mereka hadapi dalam belajar.
Di Al Masoem sendiri wali santri tidak hanya menjaga tapi juga memang terlibat langsung akan proses pembelajaran siswa dan santri di sekolah dan di pesantren. Hafalan Al Quran menjadi pelajaran utama yang dimana wali santri langsung turun, sisanya seperti pelajaran akademis beberapa wali santri ada yang membantu tapi jika memang terbilang sulit biasanya wali santri meminta wali kelas untuk ikut membantu.
5. Menjadi Teladan:
Tunjukkan kepada peserta didik Anda dengan tindakan, bukan hanya kata-kata, bahwa Anda peduli dan memiliki keinginan yang tulus untuk melihat mereka berkembang. Menjadi teladan dalam perilaku, etika, dan sikap positif akan membantu memperkuat hubungan antara guru dan siswa. Bahkan selama belasan tahun menjadi wali santri, ibu Ima ini pernah menjadi wali santri yang baper bahkan terlalu baper dengan putri putrinya. Bahkan beliau mengungkapkan bahwa menggunakan hati terhadap para peserta didik itu memang tidak bagus tapi tanpa hati kita tidak bisa memberikan yang terbaik bagi putri putri kami, sehingga kehilangan putri putri peserta didik yang paling beliau cintai untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi menjadi salah satu hal yang harus direlakan setiap kelulusan. Tapi dengan cara seperti ini, peserta didik jauh lebih hormat dan jauh lebih mencintai beliau sebagai seorang guru atau wali santri.
6. Terus Belajar dan Berkembang:
Jadilah guru yang terbuka untuk belajar dan berkembang secara profesional maupun personal. Menyadari bahwa setiap peserta didik memiliki keunikan dan berbagai kebutuhan akan membantu Anda terus beradaptasi dan meningkatkan kualitas pengajaran Anda.
Kesimpulan :
Dari pengalaman kami dalam mendidik para peserta didik dan dalam memberikan pelayanan kepada orang tua dan para peserta didik, kami menuntut keras para guru dan wali santri di pondok pesantren untuk bisa memberikan 100% dirinya untuk pekerjaannya. Konsep seorang guru tidak hanya sebagai tenaga pendidik, tetapi juga sebagai orang tua bagi putra dan putrinya di sekolah memang menjadi tuntutan yang tidak bisa diabaikan. Meskipun tidak semua lembaga pendidikan menerapkan konsep seperti ini, namun bagi lembaga pendidikan yang mengedepankan pendidikan dan kekeluargaan, konsep guru sebagai orang tua harus dilaksanakan.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini dengan konsisten dan tulus, seorang guru memiliki peluang yang lebih besar untuk mencintai peserta didiknya dan menjadi sumber inspirasi serta dukungan bagi perkembangan mereka.