Syahwat kekuasaan menguasai Jokowi yang telah 10 tahun berkuasa, ingin berkuasa lebih lama. Menurut Adian Napitupulu, Jokowi sudah menyatakan ingin berkuasa 3 periode tetapi Megawati menolak. Kemudian dengan cara penundaan pemilu 2-3 tahun, ada penolakan juga dari Mahfud MD, sebagai menkopolhukam.
Jokowi tidak menyerah untuk bisa berkuasa lebih lama, dengan cara menempatkan anaknya Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres dari Prabowo Subianto yang telah berumur 73 tahun.
Saat ini PDI Perjuangan belum mengambil tindakan atas manuver Jokowi dan keluarganya. Bukan hanya Jokowi yang terang-terangan berubah, tetapi juga Gibran. Gibran yang dijadikan walikota atas usungan PDI Perjuangan dengan membatalkan usungan lain, telah melakukan tindakan tidak tegak lurus kepada keputusan partai.
Jika Prabowo-Gibran menang, maka politik dinasti akan merasuk lebih dalam ke sendi-sendi peerintahan. Karena respon rakyat yang mendukung adanya dinasti, rakyat tidak peduli.
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga ingin anaknya masuk pemerintahan tetapi masih punya malu, tidak dilakukan pada saat SBY menjabat. Berbeda dengan Jokowi, bukan hanya nepotisme yang dihidupkan lagi, tetapi kolusi dan korupsi juga makin berani. Strategi melemahkan dan bisa mengatur KPK membuat para politikus riang gembira, sehingga lupa, mereka bisa disandera oleh Jokowi. Ketua umum partai-partai Koalisi Indonesia Maju terlihat kurang bersemangat mendukung cawapres, karena sandera berbagai macam masalah yang bisa ditimpakan oleh KPK.
PDI Perjuangan yang merasa dikhianati akan mengeluarkan tindakan, jika pemerintah sebagai wasit pemilu tidak berlaku jujur dan adil dalam melaksanakan pemilu 2024. Masyarakat pendukung PDI Perjuangan merasa kesal terhadap pasangan calon Prabowo-Gibran. Terjadinya penurunan baliho Prabwo-Gibran di daerah-daerah merupakan tanda-tanda kemarahan PDI Perjuangan.