INFO
Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.
Gaya Hidup 5 min read Juni 05, 2024

Tapera: Program Mulia atau Beban Finansial Baru?

Admin
Admin Author

Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat) adalah program tabungan perumahan yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat agar bisa memiliki rumah dengan cara menabung secara berkala. Program ini diinisiasi dengan tujuan mulia, yaitu membantu masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah untuk memiliki rumah hunian. Namun, di sisi lain, beberapa pihak menganggap program Tapera ini sebagai beban finansial baru bagi masyarakat. Program ini melibatkan potongan gaji sebagai kontribusi, sehingga perlu dicermati dampaknya terhadap beban keuangan masyarakat dan kebijakan kepemilikan rumah. 

Salah satu poin krusial terkait dengan program Tapera adalah potongan gaji yang akan dilakukan untuk kontribusi tabungan. Jika program ini dijalankan, maka setiap pekerja formal akan dikenai potongan gaji sebesar 3% untuk menyisihkan dana sebagai kontribusi dalam program Tapera. Hal ini tentu menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Meskipun potongan ini bertujuan untuk kepentingan masa depan memiliki rumah, namun bagi sebagian masyarakat, potongan gaji tersebut bisa menjadi beban finansial tambahan.

Beban keuangan menjadi salah satu aspek penting yang perlu dipertimbangkan terkait program Tapera. Bagi sebagian masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam pengaturan keuangan, potongan gaji sebesar 3% tersebut dapat berdampak pada keuangan pribadi. Apabila masyarakat sudah memiliki tanggungan keuangan lainnya, seperti cicilan rumah, tagihan listrik, air, dan kebutuhan primer lainnya, potongan gaji tambahan dari program Tapera bisa menjadikan beban keuangan semakin bertambah. Oleh karena itu, perlu adanya kejelasan dari pemerintah terkait dengan pemetaan dan mitigasi terhadap beban keuangan yang mungkin akan dialami oleh masyarakat.

Dari aspek kepemilikan rumah, program Tapera seharusnya menjadi alternatif yang membantu masyarakat agar dapat memiliki rumah sendiri. Namun, kepemilikan rumah bukanlah jaminan yang mudah dicapai, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Selain potongan gaji, proses pendaftaran dan persyaratan dalam program Tapera juga perlu diperjelas agar tidak membingungkan masyarakat. Selain itu, diperlukan pemastian bahwa dana yang terkumpul melalui program Tapera dapat digunakan sebagaimana mestinya untuk membantu masyarakat dalam memiliki rumah yang layak dan terjangkau.

Dalam merumuskan program Tapera, pemerintah perlu mempertimbangkan secara seksama aspek-aspek yang berkaitan dengan keuangan dan kepemilikan rumah masyarakat. Selain itu, sosialisasi dan edukasi terkait program Tapera juga perlu ditingkatkan agar masyarakat dapat memahami manfaat dan risiko yang terkait dengan program ini. Dengan demikian, diharapkan program Tapera dapat menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata dan pembaharuan bagi masyarakat dalam memiliki rumah, bukan justru menjadi beban finansial tambahan.

Dalam konteks ini, peran pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat dalam mengevaluasi keberlangsungan program Tapera menjadi sangat krusial. Pentingnya adanya transparansi, kerja sama, dan pemahaman bersama akan mengarahkan program ini sebagai solusi yang bermanfaat bagi masyarakat dalam mencapai tujuan memiliki rumah.